Berperan Aktif Mendirikan YPTK Wolter Monginsidi Gereja menyaksikan sebuah kenyataan bahwa banyak warga jemaat, khususnya kaum muda yang tidak memenuhi syarat ataupun ketiadaan dana, padahal mereka memiliki hasarat yang besar untuk menimba ilmu di perguruan tinggi.

Berdirinya Yayasan Perguruan Tinggi Wolter Monginsidi (YPTK) Wolter Monginsidi dilatarbelakangi adanya kebutuhan guru agama Kristen untuk tingkat local maupun nasional. Factor pendorong lainnya adalah adanya aspirasi gereja-gereja di Surakarta untuk meningkatkan pelayanan melalui sebuah lembaaga Perguruan Tinggi Agama Kristen. (Dr. Wahyu Nugroho, S.Mi.,M.A. dalam Buku sejarah GKJ Margoyudan – Berakar, Bertumbuh dan Berbuahdemi Kemuliaan Alah).

Kebutuhan akan guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) sangat dirasakan terutama di daerah Surakarta dan sekitarnya. Ketika pemecahan masalah tersebut melalui lembaga perguruan tinggi Agama Kristen belum dimungkinkan, gereja-gereja mengutus warganya untuk mlayani sekolah-sekolah dalam tugas mengajar PAK. Walaupun sebenarnya yang bersangkutan belum memiliki kewenanganmengajar sebagai persyaratan utama yang ditetapkan bagi guru di tingkat SLTP/SLTA. Akibatnya tidak jarang pendeta harus turun tangan utnuk memenuhi kebutuhan tersebut. Langkah ini seringkali menempatkan pendeta dalam posisi yang dilematis yaitu ketika tugas mengajar di sekolah berbenturan dengan tugasnya selaku Gembala Jemaat.

Disis lain Gereja menyaksikan sebuah kenyataan bahwa banyak warga jemaat, khususnya kaum muda yang tidak dapat melanjutkan pendidikan perguruan tinggi karena tidak dapat bersaing dan memenuhi syarat atau kekurangan dana. Padahal mereka memiliki hasrat yang besar untuk menimba ilmu di perguruan tinggi.

Diaras nasional sejak tahun 1978 ada sebuah uoaya yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Protestan bersama dengan Pimpinan Gereja dab Perguruan Tinggi Theologia seluruh Indonesia untuk memecahkan permasalahan tentang kebutuhan guru PAK. Sebagai langkah awal mereka menyusun kurikulum baku utnuk menyelenggarakan Pendidikan Tinggi Teologia Jurusan PAK.

Pengesahan kurikulum baku tersebut oleh Menteri Agama diperjuangkan oleh Dirjen selaku aparat pemerintah dengan kesepakatan gereja-gereja dan PErguruan Tinggi Theologia seluruh Indonesia, yang akan memberikan dasar hokum bagi usaha gereja untuk mencukupi kebutuhan guru PAK dalam jalur formal.