Keahlian utama yang dibutuhkan untuk menghadapi industri 4.0

person
tag
eduCareer
visibility
123

Anggota Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas), Prof Zainal A. Hasibuan mengungkapkan, di era Industri 4.0, ada banyak pekerjaan yang hilang digantikan oleh mesin pintar. Pekerjaan yang hilang tersebut adalah yang sifatnya repetitif atau berulang-ulang.

Namun, di saat yang bersamaan, era Industri 4.0 juga turut melahirkan beragam peluang kerja baru. Tetapi tantangannya adalah apakah Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki Indonesia cukup kompeten untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan baru tersebut.

“Memang akan ada pekerjaan yang hilang, tetapi banyak juga pekerjaan baru yang muncul. Pertanyaannya, bagaimana pekerjaan yang baru muncul ini harus kita grap, harus kita rangkul dan kita ciptakan ekosistemnya. Itulah yang sering kita katakan perlu adanya new skill. Ada keterampilan baru yang dituntut untuk dimiliki oleh SDM kita,” kata Zainal Hasibuan di acara diskusi yang digelar Wantiknas, di Jakarta, Jumat (18/10/2019).

Mengutip hasil riset dari World Economic Forum, Zainal memaparkan ada 10 kemampuan utama yang paling dibutuhkan di tahun 2020, yaitu bisa memecahkan masalah yang komplek (complex problem solving), berpikir kritis (critical thinking), kreatif (creativity), kemampuan memanage manusia (people management), bisa berkoordinasi dengan orang lain atau team-work (coordinating with others), memiliki kecerdasan emosional (emotional intelligence), memiliki kemampuan menilai dan mengambil keputusan (judgment and decision making), berorientasi pelayanan atau mengedepankan pelayanan (service orientation), memiliki kemampuan negosiasi (negotiation), serta memiliki fleksibilitas kognitif (cognitive flexibility).

“Cikal bakal dari skill yang paling dibutuhkan ini sebetulnya sudah ada, tetapi memang perlu dipertajam. Hanya saja, apakah sistem pendidikan kita mendukung tumbuh suburnya skill yang dibutuhkan ini? Yang saya khawatirkan, ini masih jauh panggang dari api,” imbuhnya.

Zainal mengungkapkan, industri 4.0 juga telah mengubah pola bisnis yang harus disikapi dengan serius oleh seluruh pihak. Misalnya, orang terkaya di bisnis ikan saat ini justru tidak memiliki ikan, sesuatu yang tidak mungkin terjadi di masa lalu.

“Dalam pelajaran entrepreneurship, saat ini yang diajarkan adalah cara-cara dagang tradisional. Padahal, pola berbisnis sudah berubah dan kegunaan sesuatunya juga sudah berubah. Cara bekerja pun sudah berubah, tidak ada lagi masalah tempat, waktu, semuanya terhubung. Sehingga cara belajarnya pun harus diubah untuk memenuhi kebutuhan di era industri 4.0,” kata Zainal.

Pertumbuhan ekonomi digital menurut Zainal juga belum dibarengi oleh ketersediaan ahli digital yang mumpuni. Beberapa perusahaan teknologi di Indonesia terpaksa harus mempekerjakan tenaga kerja asing. Kondisi ini berbeda dengan yang terjadi di India. Studi Korn Ferry mengenai Global Talent Crunch memperkirakan pada 2030 mendatang, India bakal surplus tenaga kerja ahli digital sebanyak 245,3 juta orang. Sementara Indonesia diproyeksi kekurangan sekitar 18 juta tenaga ahli digital.

“Yang juga saya kritik, selama ini kita lebih banyak sebagai pengguna teknologi. Padahal ada porsi kita yang harusnya juga membuat teknologi. Masalahnya, kalau pun ada yang membuat, orang kita juga belum tentu mau menggunakannya. Jadi sebetulnya kata kuncinya adalah keberpihakan,” kata Zainal.

Edunitas Author:
SEO Content Writer dengan 4 tahun pengalaman dalam menulis artikel dalam berbagai bidang, mulai dari news, entertainment, gaming, lifestyle, health, otomotif, edukasi, hingga bisnis. Ia memiliki passion khusus di bidang SEO.
Bagikan Artikel :
share

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

Temukan Artikel yang Sesuai dengan Minat Anda. Pilih topik yang menarik perhatian Anda, dan mulailah perjalanan menuju pengetahuan yang lebih luas!

Temukan Kampus Favorit di Daerahmu!

Pertanyaan Umum yang Sering Ditanyakan

Benar, kampus yang bekerja sama dengan kami menawarkan opsi pembayaran cicilan tanpa bunga. Anda dapat menyesuaikan pembayaran sesuai kemampuan, tanpa memberatkan.

Ya, program kuliah yang ada di edunitas bersifat fleksibel. Mahasiswa dapat mengikuti kelas di luar jam kerja, seperti di malam hari, weekend, atau waktu shift.

Biaya pendaftaran bervariasi tergantung kampus dan program studi yang dipilih. Biaya pendaftaran di edunitas mulai dari 100.000. Selain itu Anda bisa mendapatkan gratis biaya pendaftaran dengan syarat dan ketentuan yang berlaku

Biaya kuliah per semester bergantung pada program studi dan kampus yang dipilih. Biaya kuliah mulai dari 400.000, kami menyediakan rincian biaya pada setiap halaman program studi. Selain itu kami menawarkan program beasiswa yang dapat membantu meringankan biaya studi.

Edunitas menawarkan Program Perkuliahan Reguler (P2R), Program Perkuliahan Karyawan (P2K), Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan Program Shift. Silakan cek disini untuk menyesuaikan kebutuhan program kuliah Anda

Edunitas bekerja sama dengan kampus-kampus di seluruh Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Aceh dan berbagai kota besar lainnya. Kami menyediakan fitur pencarian lokasi kampus untuk memudahkan calon mahasiswa menemukan kampus di area yang diinginkan.

Edunitas menawarkan berbagai pilihan jenjang pendidikan yang mencakup Diploma (D3), Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3), dengan 300+ program studi terbaik. Anda bisa cek melalui fitur pencarian kampus