Segala informasi di bawah ini akan membawa Sahabat untuk mengerti lebih jauh mengenai proses manusia dalam menghemat dan membatasi diri dengan perangkat digital. Berdasarkan artikel yang dimuat oleh Psyche.co mengenai detoks digital, ada banyak sekali hal yang harusnya kita sadari agar tidak semakin tenggelam dalam lautan negatif sisi digitalisasi dan tidak mempedulikan hal-hal fisik yang memberi vibes positif ke jiwa dan raga kita.
Baca Juga: Ini Dia Gangguan Mental pada Remaja Indonesia
Perkembangan dunia digital membawa hegemoni kehidupan baru manusia. Hegemoni-hegemoni tersebut meliputi banyak aspek, misalnya perilaku sosial, ekonomi, politik, budaya, dan lain sebagainya. Perubahan dalam hegemoni ini sadar atau tidak sadar terjadi begitu cepat. Bahkan dalam satu dekade, perubahannya sangat jelas terasa dan terlihat. Misalnya, satu dekade yang lalu, smartphone akan dibiarkan untuk berdering jika ada telepon atau semacamnya tanpa harus menerima lirikan dan kerutan kening orang-orang sekitar, berbeda dengan apa yang terjadi di masyarakat kita sekarang, dering telepon sudah jarang terdengar bahkan dianggap hal yang mengganggu. Akan lebih baik jika di silent agar tidak mengganggu orang lain. Hal itu adalah sebuah norma yang perlahan menjadi hegemoni budaya dalam masyarakat. Diperlukan ketelitian alam bawah sadar kapan saatnya perangkat digital digunakan, disingkirkan, dan diistirahatkan. Usaha untuk membatasi penggunaan, menyingkirkan, dan mengistirahatkan perangkat digital ini biasa kita sebut detox digital.
“Perangkat digital membuat ketagihan”, “kecanduan handphone”, dan ungkapan keluhan lain mengenai perangkat digital yang tentu sering kita dengarkan. Ada juga ungkapan bahwa digital menghemat waktu tetapi juga pencuri waktu besar atau mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana cara masyarakat dalam mengambil jeda dari distraksi media digital?
Pada kenyataannya, memutuskan hubungan dengan perangkat digital atau media digital memang sulit, namun bukti dan data atas penggunaan yang berlebihan bisa kita dapatkan dimana-mana. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Psyche.co, sebagian besar orang menjawab bahwa mereka menghabiskan terlalu banyak waktu untuk online. Oleh karena itu, buku self-help, konten media sosial, dan juga berbagai artikel atau bacaan menyediakan tips untuk keluar dari perilaku adiktif, waktu layar, dan segala hal dengan motif pemutusan hubungan sosial.
Dalam buku Digital Detox: The Politics of Disconnecting (2020), ada tiga cara untuk mengambil jarak dan jeda dari digital.
Baca Juga: Prediksi Resesi Global 2023, Apa Rentetan Penyebabnya?
Di titik ini, digitalisasi menawarkan kebahagiaan dan kesedihan. Kesenangan karena memberikan hiburan, tetapi sekaligus menghabiskan waktu, produktivitas, dan uang untuk sekadar menikmati hiburan yang mereka suguhkan. Ketiga hal itu kadang tidak disadari. Dalam membatasi diri dalam penggunaan teknologi, ada perbedaan yang harus dicatat, yaitu mengatur perilaku dan untuk mengatur teknologi.
Baca Juga: Bisnis Minuman Manis, Kajian Jurusan Manajemen Publik
Dalam buku The Revenge of Analog: Real Things and Why They Matter (2016), David Sax mengatakan bahwa buku jurnal, piringan hitam, alat tulis, vinyl, dan permainan papan digemari kembali; orang menjadi bersemangat tentang objek fisik dan menggunakannya untuk memperlambat penggunaan media.
Oleh karena itu, yang harus disadari sedini mungkin adalah sikap yang tidak terlalu adiktif kepada perangkat digital meskipun membawa dan menawarkan berbagai kemudahan. Aktivitas dan kegiatan fisik masih harus terus diperhatikan agar seimbang. Jaga kesehatan diri dari berbagai inovasi teknologi agar hakikat sebagai manusia tetap ada dalam diri.
Dapatkan berbagai pengetahuan mengenai info pendidikan terkini Indonesia di Edunitas.com
Baca artikel menarik lainnya di sini.
Temukan Artikel yang Sesuai dengan Minat Anda. Pilih topik yang menarik perhatian Anda, dan mulailah perjalanan menuju pengetahuan yang lebih luas!
Benar, kampus yang bekerja sama dengan kami menawarkan opsi pembayaran cicilan tanpa bunga. Anda dapat menyesuaikan pembayaran sesuai kemampuan, tanpa memberatkan.
Ya, program kuliah yang ada di edunitas bersifat fleksibel. Mahasiswa dapat mengikuti kelas di luar jam kerja, seperti di malam hari, weekend, atau waktu shift.
Biaya pendaftaran bervariasi tergantung kampus dan program studi yang dipilih. Biaya pendaftaran di edunitas mulai dari 100.000. Selain itu Anda bisa mendapatkan gratis biaya pendaftaran dengan syarat dan ketentuan yang berlaku
Biaya kuliah per semester bergantung pada program studi dan kampus yang dipilih. Biaya kuliah mulai dari 400.000, kami menyediakan rincian biaya pada setiap halaman program studi. Selain itu kami menawarkan program beasiswa yang dapat membantu meringankan biaya studi.
Edunitas menawarkan Program Perkuliahan Reguler (P2R), Program Perkuliahan Karyawan (P2K), Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan Program Shift. Silakan cek disini untuk menyesuaikan kebutuhan program kuliah Anda
Edunitas bekerja sama dengan kampus-kampus di seluruh Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Aceh dan berbagai kota besar lainnya. Kami menyediakan fitur pencarian lokasi kampus untuk memudahkan calon mahasiswa menemukan kampus di area yang diinginkan.
Edunitas menawarkan berbagai pilihan jenjang pendidikan yang mencakup Diploma (D3), Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3), dengan 300+ program studi terbaik. Anda bisa cek melalui fitur pencarian kampus