Halo Sahabat Edunitas!
Bagi Sahabat yang menggemari musik, sedikit banyak mendengar kabar dunia musik yang terjadi belakangan ini. We The Fest, adalah festival seni, musik, dan makanan yang diadakan di Jakarta setiap tahunnya. We The Fest kali ini mengundang band pop-rock asal Manchester, The 1975 yang sebelumnya manggung di Malaysia beberapa waktu lalu. Namun, saat tampil di Malaysia, band tersebut dihentikan secara paksa setelah vokalis The 1975, Matty Healy, melayangkan protes atas kebijakan pemerintah Malaysia yang melarang LGBT di negara tersebut. Tidak hanya itu, aksi Matty Healy dilanjutkan dengan mencium rekan bandnya Ross MacDonald, yang sesaat setelah aksi tersebut penampilan mereka dihentikan oleh panitia. Dalam aksi tersebut, Matty Healy juga menyampaikan bahwa dia meyakini sebagian besar penonton konser adalah gay yang progresif dan keren. Namun, pada kenyataannya, kelompok LGBT Malaysia sendiri justru marah atas aksi Matty Healy tersebut. Kasus tersebut menjadi penyebab band ini menemui berbagai penolakan di negara-negara tujuan konser mereka.
Baca Juga: Efek Mpemba, Sebuah Fenomena Air Panas dan Air Dingin!
Buntut dari kejadian tersebut, band The 1975 juga harus batal tampil di Indonesia dan Taiwan. Pihak promotor di kedua negara tersebut tidak menjelaskan secara detail alasan pembatalan penampilan The 1975. Mereka hanya merujuk pada “kondisi belakangan ini”, yaitu aksi Matty Healy di Malaysia. Lalu seperti apa kebijakan ketiga negara tersebut terhadap LGBT? Di antara ketiganya hanya Malaysia yang memiliki kebijakan legal yang jelas terhadap LGBT. Mereka memiliki UU Anti LGBT. Dalam UU tersebut, pelaku LGBT dapat dipidana selama 20 tahun penjara. Sementara itu, Indonesia tidak memiliki hukum legal terkait larangan LGBT. Hanya saja secara kultural LGBT tidak diterima di Indonesia sehingga mendatangkan The 1975 tentu saja akan berpotensi mendapat penolakan dari masyarakat. Berbeda dengan Malaysia dan Indonesia, Taiwan adalah salah satu negara Asia yang terbuka terhadap kelompok LGBT namun penampilan The 1975 juga ikut batal di negara tersebut. Hal ini dicurigai diakibatkan oleh dikarenakan sikap Matty Healy yang dianggap tidak menghargai kebijakan negara tempat konsernya diselenggarakan.
Lalu bagaimana dengan kelompok LGBT Malaysia? Alih-alih Matty Healy mendapat dukungan malah justru mengundang kemarahan dari aktivis dan komunitas LGBT Malaysia. Tindakan Matty Healy tersebut dianggap sebagai "performative activism” atau “aktivisme performatif” yang aksi ini dianggap tidak membantu dan hanya akan membuat LGBT semakin rentan dalam kebijakan politik kedepannya. Selain itu, tindak Matty Healy dianggap sebagai tindakan 'white saviour stunt' sebuah tindakan penyelamatan dari orang-orang ras kulit putih terhadap ras berwarna dengan menggunakan sepenuhnya logika kulit putih. Aksi 'white saviour stunt' sudah sejak lama dikritik oleh berbagai kalangan. Alih-alih membantu, kulit putih hanya menyampaikan narasi sebagai ras yang selalu bisa menyelesaikan permasalahan dan menempatkan orang di luar ras tersebut tidak berdaya. Catatan paling kritis terhadap tindakan tersebut adalah bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan berdasarkan logika dan cara berpikir kulit putih.
Baca Juga: Dampak Buruk Industri Fast-Fashion, Limbah Tekstil Semakin Buruk
Matty Healy sebelumnya memang dianggap sebagai sosok yang problematik oleh banyak kalangan. Beberapa tindakannya yang menuai kontroversi. Pertama, dia pernah melakukan mirror selfie dengan menginjak bendera Korea Selatan pada 2019 lalu lebih lanjut dia juga pernah terlibat dalam candaan rasis terhadap ras Asia. Kemudian dia pernah dengan sengaja mencium penonton sesama jenisnya saat konser di Dubai sementara Dubai adalah negara yang memiliki kebijakan larangan terhadap perilaku LGBT. Aksi mencium penggemar di panggung ini sudah sering dilakukan oleh Healy. Selanjutnya, dia sering melontarkan candaan tidak senonoh terhadap kulit hitam saat perform. Terakhir, Healy dikecam karena melakukan hormat Nazi sebagai candaan.
Banyak di antara penikmat musik The 1975 menyayangkan aksi Healy ini. Mereka menyampaikan bahwa mendatangi konser The 1975 adalah untuk menikmati karya musiknya, bukan untuk mendengar opini Si vokalis.
Kalau Sahabat, bagaimana opini tentang hal ini?
Baca artikel menarik lainnya tentang pendidikan dan karir di sini!
Temukan Artikel yang Sesuai dengan Minat Anda. Pilih topik yang menarik perhatian Anda, dan mulailah perjalanan menuju pengetahuan yang lebih luas!
Benar, kampus yang bekerja sama dengan kami menawarkan opsi pembayaran cicilan tanpa bunga. Anda dapat menyesuaikan pembayaran sesuai kemampuan, tanpa memberatkan.
Ya, program kuliah yang ada di edunitas bersifat fleksibel. Mahasiswa dapat mengikuti kelas di luar jam kerja, seperti di malam hari, weekend, atau waktu shift.
Biaya pendaftaran bervariasi tergantung kampus dan program studi yang dipilih. Biaya pendaftaran di edunitas mulai dari 100.000. Selain itu Anda bisa mendapatkan gratis biaya pendaftaran dengan syarat dan ketentuan yang berlaku
Biaya kuliah per semester bergantung pada program studi dan kampus yang dipilih. Biaya kuliah mulai dari 400.000, kami menyediakan rincian biaya pada setiap halaman program studi. Selain itu kami menawarkan program beasiswa yang dapat membantu meringankan biaya studi.
Edunitas menawarkan Program Perkuliahan Reguler (P2R), Program Perkuliahan Karyawan (P2K), Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan Program Shift. Silakan cek disini untuk menyesuaikan kebutuhan program kuliah Anda
Edunitas bekerja sama dengan kampus-kampus di seluruh Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Aceh dan berbagai kota besar lainnya. Kami menyediakan fitur pencarian lokasi kampus untuk memudahkan calon mahasiswa menemukan kampus di area yang diinginkan.
Edunitas menawarkan berbagai pilihan jenjang pendidikan yang mencakup Diploma (D3), Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3), dengan 300+ program studi terbaik. Anda bisa cek melalui fitur pencarian kampus