Sejumlah wilayah di Jawa Barat akhir-akhir ini sering diguncang gempa bumi. Pada 21 November 2022, gempa berskala 5,6 mengguncang Cianjur dan disusul pada 3 Desember 2022 gempa mengguncang Garut dengan skala 6,4 SR. Belum lagi gempa dengan skala lebih kecil juga terjadi di Jawa Barat. Gempa-gempa tersebut tentu memakan banyak korban, bukan hanya harta tetapi juga jiwa. Seiring dengan kejadian tersebut, terminologi mitigasi gempa kembali banyak diperbincangkan setelah terjadinya gempa.
Baca Juga: Gempa Cianjur: Gempa Berjenis Shallow Crustal Earthquake
Mitigasi gempa merupakan sebuah upaya untuk menekan dampak dari bencana gempa. Pada dasarnya, korban gempa muncul karena dampak dari gempa itu sendiri, bukan dari getaran yang disebabkan oleh gempa akan tetapi dari runtuhan bangunan yang menimpa manusia. Berbeda dengan banjir atau longsor misalnya. Satu minggu pasca gempa Cianjur, Reuters mempublikasikan estimasi korban jiwa yang mencapai 310 orang serta 10 korban yang masih hilang dan setidaknya sekitar 58.000 orang harus mengungsi. Banyaknya korban akibat gempa kali ini memunculkan pertanyaan di publik, mengapa gempa dengan kekuatan 5.6 magnitudo menimbulkan tingkat keparahan yang tinggi?
BMKG menjelaskan setidaknya ada tiga alasan penyebab parahnya dampak gempa Cianjur minggu lalu. Di antaranya, jenis gempa yang terjadi adalah gempa bumi dangkal sehingga getarannya akan lebih terasa di permukaan dan akan cenderung menimbulkan kerusakan yang parah. Namun, hal ini tidak selalu dan otomatis terjadi, tentu ada faktor pendukung lainnya. Misalnya, pemukiman warga yang kebanyakan berada di tanah lunak dan perbukitan serta bangunan yang tidak memenuhi standar umum dan tahan gempa.
Lalu, mitigasi seperti apa yang sebaiknya dikampanyekan ke publik?
Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap gempa. Lebih dari 8.000 gempa terjadi pada tahun 2020 dan setiap tahunnya rata-rata ada satu atau dua kali gempa yang merusak seperti gempa Cianjur yang belum lama ini terjadi. Oleh karena itu, bangungan tahan gempa menjadi salah satu hal penting untuk disosialisasikan. Jika belum banyak yang tahu, Badan Standarisasi Nasional sudah mengeluarkan SNI 1726:2021 tentang tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung, Namun, pada praktiknya SNI ini belum banyak dilaksanakan karena sosialisasi atau penyuluhan yang belum merata dan ketidaktersediaan dana untuk membangun bangunan yang tahan gempa. Adapun beberapa faktor penyebab kerusakan struktur bangunan akibat gempa adalah;
Untuk menghindari penyebab kerusakan-kerusakan di atas, para praktisi bangunan perlu menjadikan SNI 1726:2012 sebagai acuan dalam membangun gedung atau infrastruktur lainnya di Indonesia.
Baca Juga: Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal Jakarta Barat
Digitalisasi informasi memungkinkan informasi apapun tersebar dengan mudah, termasuk tentang disinformasi mitigasi bencana terutama gempa. Oleh sebab itu masyarakat dituntut untuk mampu meningkatkan literasi kebencanaan agar tidak salah langkah saat bencana gempa terjadi. Ditambah lagi, gempa adalah bencana paling tidak terprediksi sehingga sangat penting meningkatkan pemahaman serta pengetahuan masyarakat terkait mitigasi gempa melalui literasi. BNPB menyampaikan beberapa tindakan yang bisa dilakukan saat terjadi gempa;
Untuk lebih lanjut, dalam rangka meningkatkan literasi kebencanaan Sahabat Edunitas bisa download buku saku yang diterbitkan BNPB ini Untuk dukungan penuh dan literasi yang lebih masif dan menyeluruh, Sahabat bisa melanjutkan pendidikan formal jurusan geografi untuk memperdalam ilmu dan mitigas bencana serta berbagai hal mengenai ini. Klik link berikut untuk daftar dan dapatkan diskon biaya pendaftaran menarik dari Edunitas!
Baca artikel menarik lainnya di sini!
Temukan Artikel yang Sesuai dengan Minat Anda. Pilih topik yang menarik perhatian Anda, dan mulailah perjalanan menuju pengetahuan yang lebih luas!
Benar, kampus yang bekerja sama dengan kami menawarkan opsi pembayaran cicilan tanpa bunga. Anda dapat menyesuaikan pembayaran sesuai kemampuan, tanpa memberatkan.
Ya, program kuliah yang ada di edunitas bersifat fleksibel. Mahasiswa dapat mengikuti kelas di luar jam kerja, seperti di malam hari, weekend, atau waktu shift.
Biaya pendaftaran bervariasi tergantung kampus dan program studi yang dipilih. Biaya pendaftaran di edunitas mulai dari 100.000. Selain itu Anda bisa mendapatkan gratis biaya pendaftaran dengan syarat dan ketentuan yang berlaku
Biaya kuliah per semester bergantung pada program studi dan kampus yang dipilih. Biaya kuliah mulai dari 400.000, kami menyediakan rincian biaya pada setiap halaman program studi. Selain itu kami menawarkan program beasiswa yang dapat membantu meringankan biaya studi.
Edunitas menawarkan Program Perkuliahan Reguler (P2R), Program Perkuliahan Karyawan (P2K), Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan Program Shift. Silakan cek disini untuk menyesuaikan kebutuhan program kuliah Anda
Edunitas bekerja sama dengan kampus-kampus di seluruh Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Aceh dan berbagai kota besar lainnya. Kami menyediakan fitur pencarian lokasi kampus untuk memudahkan calon mahasiswa menemukan kampus di area yang diinginkan.
Edunitas menawarkan berbagai pilihan jenjang pendidikan yang mencakup Diploma (D3), Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3), dengan 300+ program studi terbaik. Anda bisa cek melalui fitur pencarian kampus