Maudy Ayunda, artis cantik dan multitalenta ini kerap kali menyita perhatian masyarakat, khususnya bagi generasi muda Indonesia. Dengan kecerdasan dan bakatnya, Maudy kerap kali menjadi idola dan role model. Ditambah lagi dengan terpilihnya Maudy menjadi juru bicara Indonesia di G20 semakin menambah rentetan kekaguman masyarakat kepada dirinya.
Tak heran, jika segala aktivitas Maudy Ayunda yang dibagikan di media sosial menjadi tontonan wajib generasi sekarang, salah satunya adalah saat ia hadir sebagai bintang tamu di acara Endgame oleh Bapak Menteri Perdagangan pada periode 2011-2014, Gita Wirjawan.
Diketahui bahwa acara Endgame adalah acara podcast yang juga ditayangkan di Youtube kanal Bapak Gita Wirjawan sendiri ini merupakan acara yang mengundang berbagai tokoh inspiratif tanah air untuk mengulik sudut pandang dan pola pikirnya dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial, hingga budaya kontemporer yang diulas dalam bentuk obrolan santai. Acara ini kerap menjadi sumber tontonan para generasi untuk belajar mengenai banyak hal dan mendapatkan banyak inspirasi.
Kedua sosok ini tampak sangat asik berbincang mengenai beberapa hal. Mulai dari pendidikan, sedikit bisnis, filosofi, sejarah, hingga bahasa. Semua hal tersebut merupakan satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan, atau dengan bahasa yang lebih keren, Pak Gita Wirjawan menyebutnya dengan amalgamasi, yaitu komponen yang saling terkait dan bergabung menjadi satu kesatuan. Sahabat Edunitas, simak isi pembicaraan mereka di bawah ini.
Dalam pembahasan yang kurang lebih sepanjang 1 jam 29 menit tersebut, mereka banyak menghabiskan waktu untuk membahas pendidikan. Mulai dari proyeksi pendidikan seperti apa yang diharapkan terlaksana hingga mengulik beberapa kendala pendidikan di Indonesia.
Dalam isi obrolan mereka, harapan terbesarnya adalah mengubah mindset murid mengenai belajar. Harapannya, cinta belajar dan keinginan dalam mengetahui sesuatu dan mempelajari sesuatu adalah pondasi utama dalam berpikir.
Hal ini memerlukan dukungan guru yang juga menjadi pemantik dalam meningkatkan kompetensi tersebut. Cara guru mengajar dan cara guru bertanya sesuatu ke siswa saat ujian adalah kunci untuk membangkitkan nalar siswa dalam memahami ilmu yang ia dapatkan agar bisa menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Konten yang disisipkan dalam pertanyaan ujian seharusnya adalah konten yang membangkitkan kekritisan siswa, tidak hanya berkutat dengan jawaban konseptual yang hanya berlandaskan teori semata.
Meskipun demikian, obrolan mereka tidak mengecilkan usaha Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menyusun kurikulum dan sistem pengajaran di Indonesia. Namun, sekali lagi ditekankan bahwa kualitas guru harus diprioritaskan melebihi prioritas kurikulum dan murid.
Hal yang menarik yang juga dibahas dalam aspek pendidikan adalah budaya membaca buku dengan memberikan gambaran contoh bahwa murid di Finlandia setiap hari rata-rata meminjam dua buku dari perpustakaan umum untuk dibaca, hal itu belum termasuk dengan buku yang mereka beli, buku yang didapatkan di platform online, dan buku digital. Hal itu berarti bahwa minat baca buku murid di sana sangat tinggi. Hal inilah yang perlu mulai dibiasakan di Indonesia, yaitu meningkatkan minat baca. Maudy yang seorang maniak buku diembankan sebuah tugas oleh Pak Gita untuk membolasaljukan gairah dan minat baca di Indonesia karena dinilai mampu memberikan influence yang tinggi.
Keduanya sepakat bahwa membaca buku adalah langkah pertama yang struktural untuk membuahkan keterbukaan pandangan terhadap dunia.
Hal kedua yang mereka bahas adalah bisnis di generasi millenial. Pak Gita Wirjawan memantik pembahasan dengan perbedaan akses generasi sekarang dengan generasi terdahulu terhadap uang.
Pembahasannya mengalir kepada bagaimana generasi milenial sekarang lebih tertarik dengan kepemilikan terhadap sesuatu sehingga berlomba-lomba dalam membangun start-up. Hal ini terjadi karena dukungan para investor terutama di Uni Eropa yang tanpa henti terus mencetak uang sehingga kehadirannya dirasakan di tengah masyarakat dan dengan mudah untuk didapatkan. Namun yang menjadi PR untuk generasi muda adalah bagaimana upaya agar memiliki kemampuan komunikasi yang baik agar tersambung dengan investor uang ini sehingga dapat menggunakan uang untuk hal yang lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara. Selengkapnya akan dibahas di poin bahasa.
Selain itu, bisnis yang berkembang sekarang sangat susah untuk menjaga keotentikannya karena dipaksa untuk mengelola modal sehingga cita-cita luhur yang menjadi niat awal justru harus tergadaikan dengan uang.
Di tengah-tengah pembicaraan mengenai bisnis, Pak Gita Wirjawan menambahkan bahwa ia sangat tertarik dengan dunia pariwisata. Pariwisata dinilai kunci agar membuat lapangan kerja. Namun, sebelum melihat pariwisata yang objek utamanya sudah dianugerahi Tuhan kepada Indonesia, kita harus memperhatikan beberapa hal yang menunjang hal ini. Misalnya pendidikan yang harus ditanamkan dengan kuat kepada SDM Indonesia yang akan bekerja di bidang itu, khususnya di aspek bahasa atau komunikasi.
Keterbatasan masyarakat dalam berkomunikasi menggunakan beberapa bahasa adalah kendala utama yang patut untuk dipikirkan solusinya. Komunikasi dan penguasaan beberapa bahasa menjadi hal penting sebagai wujud layanan pengoptimalan pariwisata. Setiap tahun, kunjungan mancanegara ke Indonesia meningkat drastis dan diperkirakan akan semakin meningkat ketika pandemi telah selesai. Dengan demikian, kebutuhan tour guide, sopir, resepsionis, atau staff hotel yang mahir dalam berbahasa Inggris semakin meningkat. Semakin baiknya kualitas layanan, maka semakin gencar pula pariwisata akan berkembang dan berdampak baik kepada pendapatan negara.
Berangkat dari hal itu, bahasa di mata Maudy dan Pak Gita sangat penting karena bisa berdampak pada ekonomi, sosial, hingga politik.
Dalam hal politik, bahasa berperan untuk menjaring lebih banyak relasi dengan seluruh orang di berbagai dunia. Dengan kekuatan relasi tersebut, vokasi akan semakin meningkat sehingga akan berperan dalam perubahan negara bahkan dunia.
Baca artikel menarik lainnya di sini.
Temukan Artikel yang Sesuai dengan Minat Anda. Pilih topik yang menarik perhatian Anda, dan mulailah perjalanan menuju pengetahuan yang lebih luas!
Benar, kampus yang bekerja sama dengan kami menawarkan opsi pembayaran cicilan tanpa bunga. Anda dapat menyesuaikan pembayaran sesuai kemampuan, tanpa memberatkan.
Ya, program kuliah yang ada di edunitas bersifat fleksibel. Mahasiswa dapat mengikuti kelas di luar jam kerja, seperti di malam hari, weekend, atau waktu shift.
Biaya pendaftaran bervariasi tergantung kampus dan program studi yang dipilih. Biaya pendaftaran di edunitas mulai dari 100.000. Selain itu Anda bisa mendapatkan gratis biaya pendaftaran dengan syarat dan ketentuan yang berlaku
Biaya kuliah per semester bergantung pada program studi dan kampus yang dipilih. Biaya kuliah mulai dari 400.000, kami menyediakan rincian biaya pada setiap halaman program studi. Selain itu kami menawarkan program beasiswa yang dapat membantu meringankan biaya studi.
Edunitas menawarkan Program Perkuliahan Reguler (P2R), Program Perkuliahan Karyawan (P2K), Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan Program Shift. Silakan cek disini untuk menyesuaikan kebutuhan program kuliah Anda
Edunitas bekerja sama dengan kampus-kampus di seluruh Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Aceh dan berbagai kota besar lainnya. Kami menyediakan fitur pencarian lokasi kampus untuk memudahkan calon mahasiswa menemukan kampus di area yang diinginkan.
Edunitas menawarkan berbagai pilihan jenjang pendidikan yang mencakup Diploma (D3), Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3), dengan 300+ program studi terbaik. Anda bisa cek melalui fitur pencarian kampus