Bea Cukai Rokok di Indonesia Naik 10%

person
Delia
tag
kesehatan
visibility
125
Bea Cukai Rokok Naik 10% Agar Menurunkan Angka Perokok

Halo Sahabat Edunitas!

Udah denger kabar tentang kenaikan bea cukai rokok belum? Here we go! Disimak dengan baik ya, biar ga misskom. Tapi sebelum baca tentang Bea Cukai, ada informasi menarik bahwa Edunitas sedang membuka diskon  50% kepada Sahabat Edunitas yang mendaftar kuliah di Edunitas hingga 25 November 2022!

Bea Cukai

Baca Juga: 95% Masyarakat Indonesia Cuek Terhadap Isu Resesi

Beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan terkait kebijakan pemerintah untuk menaikan bea cukai rokok hingga 10% untuk dua tahun ke depan. Kebijakan ini tentu mendapat respon beragam dari masyarakat. Pemerintah dinilai tidak berpihak kepada petani tembakau hingga pekerja di sektor industri rokok. Selain itu, kenaikan cukai rokok juga berpotensi meningkatkan angka penyebaran rokok ilegal. 

Namun, dibalik sebuah kebijakan, tentu pemerintah memiliki alasan yang cukup kuat. Kebijakan ini dinilai sebagai upaya peningkatan penerimaan negara dari industri rokok hingga menekan angka prevalensi merokok terutama pada anak. Di sisi lain, Direktur Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Prof Candra Fajri Ananda mengatakan bahwa kebijakan menaikkan bea cukai rokok hanya akan berdampak pada trade-off bisnis rokok dan tidak signifikan terhadap penurunan prevalensi merokok. 

"Lalu seperti apa strategi yang tepat?"

Menekan Angka Perokok 

"Mengapa harus ada upaya untuk menekan prevalensi merokok di Indonesia?"

Jawaban sederhananya adalah karena rokok memiliki risiko kesehatan yang serius, ditambah lagi dengan fakta tingginya angka perokok di Indonesia. Angka perokok yang tinggi ini berbanding lurus dengan angka penderita penyakit akibat rokok di Indonesia. Penyakit ini juga menjadi penyakit yang ditanggung oleh negara. 

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Global Adult Tobacco Survey atau GATS terdapat peningkatan hingga 8.8 juta perokok aktif di usia dewasa dalam sepuluh tahun terakhir. Bahkan, Indonesia menjadi negara dengan angka perokok tertinggi di ASEAN. Pada tahun 2021, BPJS Kesehatan harus menanggung pembiayaan penyakit akibat rokok sekitar 10–15 triliun rupiah. Selain itu, berdasarkan penelitian Litbangkes, biaya kehilangan tahun produktif akibat rokok mencapai 374 triliun rupiah. Angka-angka inilah yang menjadi salah satu acuan pemerintah dalam menaikan cukai rokok.

Meskipun pada kenyataannya, menaikan cukai rokok bukanlah satu-satunya cara dalam menurunkan angka perokok di Indonesia. Masih ada beberapa kebijakan alternatif atau pendukung, misalnya pemblokiran iklan rokok. Kebijakan ini dianggap dapat menekan angka perokok untuk pemula. Pemblokiran iklan rokok ini sudah dilakukan di negara-negara maju. Hal ini kemudian membuat produsen rokok berpindah dan mengalami perkembangan pesat di negara-negara berkembang, salah satu alasannya adalah regulasi iklan rokok yang longgar.   

Kebijakan pemblokiran iklan rokok ini merupakan pembebasan satu generasi dari rokok. Kita bisa berkaca pada New Zealand yang telah lebih dulu memberlakukan kebijakan ini. Tahun 2025, New Zealand akan melarang penduduk kelahiran tahun 2011 untuk mengkonsumsi rokok seumur hidup. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain adalah mengurangi gerai penjual rokok resmi secara signifikan dan mengurangi kandungan nikotin dalam rokok. Selain pertimbangan risiko kesehatan, rokok juga sering dikaitkan dengan kemiskinan.  

Rokok dan Kemiskinan

Baca Juga: Kelas Karyawan di Kampus Swasta Bekasi

Penelitian yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor menyebutkan bahwa mengonsumsi rokok menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kemiskinan di Indonesia. Perdebatan masyarakat miskin dan rokok sudah menjadi perdebatan yang panjang di Indonesia. Sampai muncul pertanyaan, apakah hanya masyarakat miskin yang tidak boleh mengonsumsi rokok? Tentu saja tidak. 

Merokok tidak dianjurkan kepada siapapun. Hanya saja masyarakat miskin akan lebih rentan terhadap dampak dari rokok, mulai dari dampak kesehatan hingga ekonomi. BPS mencatat bahwa rokok menjadi salah satu komoditas yang menyumbang dalam meningkatnya garis kemiskinan. Selain itu, BPS juga menemukan bahwa angka konsumsi rokok tinggi pada masyarakat yang dikategorikan miskin. Jadi, kira-kira kebijakan menaikan bea cukai rokok apakah akan berdampak pada penurunan angka perokok di Indonesia? Hanya ada dua kemungkinan, yaitu sebagai berikutmasyarakat miskin perokok tidak mampu lagi mengakses rokok. Jika kemungkinan ini bekerja maka pemerintah berhasil mencapai salah satu tujuannya. 

Masyarakat miskin perokok akan memaksakan diri untuk bisa mengakses rokok dengan menghabiskan lebih banyak uang untuk bisa mendapatkan rokok atau bahkan mengonsumsi rokok ilegal dengan harga yang lebih murah.

Daftarkan dirimu sekarang dan raih diskon 50% untuk biaya pendaftaran di sini!

Baca artikel menarik lainnya di sini.

Edunitas Author:
Delia
SEO Content Writer dengan 4 tahun pengalaman dalam menulis artikel dalam berbagai bidang, mulai dari news, entertainment, gaming, lifestyle, health, otomotif, edukasi, hingga bisnis. Ia memiliki passion khusus di bidang SEO.
Bagikan Artikel :
share

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

Temukan Artikel yang Sesuai dengan Minat Anda. Pilih topik yang menarik perhatian Anda, dan mulailah perjalanan menuju pengetahuan yang lebih luas!

Temukan Kampus Favorit di Daerahmu!

Pertanyaan Umum yang Sering Ditanyakan

Benar, kampus yang bekerja sama dengan kami menawarkan opsi pembayaran cicilan tanpa bunga. Anda dapat menyesuaikan pembayaran sesuai kemampuan, tanpa memberatkan.

Ya, program kuliah yang ada di edunitas bersifat fleksibel. Mahasiswa dapat mengikuti kelas di luar jam kerja, seperti di malam hari, weekend, atau waktu shift.

Biaya pendaftaran bervariasi tergantung kampus dan program studi yang dipilih. Biaya pendaftaran di edunitas mulai dari 100.000. Selain itu Anda bisa mendapatkan gratis biaya pendaftaran dengan syarat dan ketentuan yang berlaku

Biaya kuliah per semester bergantung pada program studi dan kampus yang dipilih. Biaya kuliah mulai dari 400.000, kami menyediakan rincian biaya pada setiap halaman program studi. Selain itu kami menawarkan program beasiswa yang dapat membantu meringankan biaya studi.

Edunitas menawarkan Program Perkuliahan Reguler (P2R), Program Perkuliahan Karyawan (P2K), Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan Program Shift. Silakan cek disini untuk menyesuaikan kebutuhan program kuliah Anda

Edunitas bekerja sama dengan kampus-kampus di seluruh Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Aceh dan berbagai kota besar lainnya. Kami menyediakan fitur pencarian lokasi kampus untuk memudahkan calon mahasiswa menemukan kampus di area yang diinginkan.

Edunitas menawarkan berbagai pilihan jenjang pendidikan yang mencakup Diploma (D3), Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3), dengan 300+ program studi terbaik. Anda bisa cek melalui fitur pencarian kampus