RESESI. Okay, inhale exhale dulu, guys! Akhir-akhir ini kata resesi memang sering ditemui dimana-mana dan aura pas baca sudah pasti negatif ya, Sahabat. Secara, bahas mengenai finansial saja sudah cukup membuat kita lemas, pikiran pasti langsung dihantui dengan dana darurat, tabungan, barang-barang yang masih di keranjang marketplace, cicilan, dan lain sebagainya. Ini? Disuruh baca tentang resesi, dduh.
Baca Juga: Pertumbuhan Populasi Dunia, Mencapai 10,4 Miliar
Akan tetapi, Sahabat, resesi tetap harus dibahas agar menjadi bekal bagi kita semua dalam bersiap-siap dengan hal terburuk yang ada. FYI, CNN Indonesia mengabarkan bahwa ada beberapa negara yang kabarnya aman dari resesi dan kabar baiknya ada nama Indonesia di daftar tersebut. Namun, bukan berarti kita 100% aman, karena tentu prediksi resesi ini belum diketahui sampai kapan. Jika dalam kurun waktu setahun, Indonesia masih dipastikan bisa survive, tapi jika melebihi waktu tersebut, belum ada yang bisa memprediksi kondisi ekonomi saat nanti.
Bagi yang belum mengerti resesi itu apa? Simak info berikut ya, Sahabat.
Berdasarkan KBBI, resesi adalah kelesuan dalam kegiatan dagang, industri, dan sebagainya (seolah-olah terhenti); menurunnya (mundurnya, berkurangnya) kegiatan dagang (industri). Resesi yang menghantui kita adalah resesi global, yang artinya kelesuan ekonominya terjadi secara global dan ini akan diprediksi terjadi pada 2023.
Mengapa resesi global bisa diprediksi? Yup, sebenarnya cukup mudah untuk memprediksi terjadinya inflasi, misalnya dengan mempertimbangkan sebagai berikut.
Sedangkan, melihat perkembangan ekonomi di 3 daerah negara dengan ekonomi terkuat di dunia, yaitu Eropa, Amerika Serikat, dan China. Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional bahkan sudah memberi warning terkait prediksi resesi global ini.
David Malpass, Presiden Bank Dunia dan Georgieva, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional memberi peringatan mengenai meningkatnya risiko resesi global dan menyampaikan bahwa jika inflasi masih menjadi masalah yang akan terus berlanjut. Hal ini dikarenakan oleh perang Rusia-Ukraina.
Baca Juga: Imbauan PBB Mengenai Pemanasan Global
Perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung ini sangat berpengaruh, sebab menimbulkan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Hal ini sudah mulai terasa saat kuartal II-2022. Untuk Amerika Serikat sendiri, mereka sudah masuk resesi pada April-Juni tahun ini. Begitupun dengan China, pemegang ekonomi terbesar setelah AS. Pertumbuhan ekonomi China hanya di angka 0,4% pada kuartal II-2022 dari quarter I-2022 sebesar 4,8%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Uni Eropa 4,1% pada kuartal II-2022 yang merupakan pertumbuhan terendah selama tiga kuartal sebelumnya. Inggris pun demikian, pertumbuhan ekonomi pada April-Juni tahun ini hanya sebesar 4,4%, terendah sejak kuartal I di tahun 2021. Beberapa negara ini juga mengalami inflasi yang diakibatkan oleh melemahnya permintaan masyarakat.
Tidak hanya berkutat pada negara-negara maju di atas, negara berkembang juga merasakan dampaknya, yaitu depresiasi mata uang dan parahnya juga terancam inflasi.
Namun, perang Rusia-Ukraina ini bukanlah satu-satunya faktor resesi. Pandemi covid-19 dan bencana iklim di semua benua juga turut menyumbang pengaruh. Simak lebih lengkap terkait hal ini di artikel berikut.
Dengan mengetahui hal ini, diharapkan masyarakat Indonesia membekali diri dengan kondisi terburuk yang akan dihadapi. Namun, Sahabat Edunitas tidak perlu untuk khawatir berlebihan sehingga menimbulkan ketakutan karena seperti yang telah dijelaskan di awal bahwa Indonesia masih relatif aman ketika melihat pertumbuhan ekonominya di atas 5 persen pada kuartal I dan II 2022.
Baca Juga: Cara Mengatur Keuangan agar Selamat Ketika Resesi 2023
Baca artikel menarik lainnya di sini.
Temukan Artikel yang Sesuai dengan Minat Anda. Pilih topik yang menarik perhatian Anda, dan mulailah perjalanan menuju pengetahuan yang lebih luas!
Benar, kampus yang bekerja sama dengan kami menawarkan opsi pembayaran cicilan tanpa bunga. Anda dapat menyesuaikan pembayaran sesuai kemampuan, tanpa memberatkan.
Ya, program kuliah yang ada di edunitas bersifat fleksibel. Mahasiswa dapat mengikuti kelas di luar jam kerja, seperti di malam hari, weekend, atau waktu shift.
Biaya pendaftaran bervariasi tergantung kampus dan program studi yang dipilih. Biaya pendaftaran di edunitas mulai dari 100.000. Selain itu Anda bisa mendapatkan gratis biaya pendaftaran dengan syarat dan ketentuan yang berlaku
Biaya kuliah per semester bergantung pada program studi dan kampus yang dipilih. Biaya kuliah mulai dari 400.000, kami menyediakan rincian biaya pada setiap halaman program studi. Selain itu kami menawarkan program beasiswa yang dapat membantu meringankan biaya studi.
Edunitas menawarkan Program Perkuliahan Reguler (P2R), Program Perkuliahan Karyawan (P2K), Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan Program Shift. Silakan cek disini untuk menyesuaikan kebutuhan program kuliah Anda
Edunitas bekerja sama dengan kampus-kampus di seluruh Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Aceh dan berbagai kota besar lainnya. Kami menyediakan fitur pencarian lokasi kampus untuk memudahkan calon mahasiswa menemukan kampus di area yang diinginkan.
Edunitas menawarkan berbagai pilihan jenjang pendidikan yang mencakup Diploma (D3), Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3), dengan 300+ program studi terbaik. Anda bisa cek melalui fitur pencarian kampus